Kelompok 5
Ketua :
Muhamad Yusup
(17214027)
Anggota :
·
Anissa Nurul Fadilah (11214304)
·
Budianto (12214240)
·
Rismawati (19214517)
·
Shifa Nurul Safitri (1A214234)
·
Yeremia Krisna (1C214383)
Kelas : 3EA10
Karakteristik
Budaya Organisasi
Secara umum pengertian budaya
organisasi yaitu suatu karakteristik yang dijunjung tinggi oleh organisasi dan
menjadi contoh organisasi untuk membedakan antara satu organisasi dengan
organisasi yang lain. Atau budaya organisasi juga disimpulkan sebagai
nilai-nilai dan norma perilaku yang diterima serta dipahami secara bersama-sama
oleh anggota organisasi sebagai dasar dalam ketentuan perilaku yang ada di
dalam organisasi tersebut.
Budaya organisasi adalah sebuah sistem
makna bersama yang dianut oleh para anggota yang membedakan suatu organisasi
dari organisasi-organisasi lainnya. Sistem makna bersama ini adalah sekumpulan
karakteristik kunci yang dijunjung tinggi oleh organisasi.
Asal muasal budaya organisasi bersumber
dari pendirinya karena pendiri dari organisasi itu mempunyai pengaruh besar
akan budaya awal organisasi baik dalam hal kebiasaan atau ideologi. Misalnya
misi yang bisa ia paksakan pada seluruh anggota organsiasi. Dimana hal semacam
ini dilakukan langkah pertama yaitu dengan merekrut dan mempertahankan anggota
yang sepaham.
Kedua, melakukan indokrinasi dan mensosialisasikan cara
pikir dan berperilaku pada karyawan. Selanjutnya yang terakhir yaitu pendiri
bertindak sebagai model peran yang mendorong anggota untuk mengidentifikasi
diri, dan jika organisasi mengalami perkembangan maka organisasi akan meraih
kesuksesan, visi, serta pendiri akan dipandang sebagai faktor penentu utama
kesuksesan.
Pengertian Budaya Organisasi Menurut Para Ahli
1)
Sarpin (1995): Suatu sistem nilai, kepercayaan dan kebiasaan dalam suatu
organisasi yang saling berinteraksi dengan struktur sistem
formalnya untuk menghasilkan norma-norma perilaku organisasi.
2)
Schein: Budaya
organisasi adalah suatu pola dari asumsi-asumsi dasar yang ditemukan,
diciptakan atau dikembangkan oleh suatu kelompok tertentu, dengan maksud agar
organisasi belajar mengatasi dan menanggulangi masalah-masalah yang
timbul akibat adaptasi eksternal dan integrasi internal yang sudah berjalan
dengan cukup baik, sehingga perlu diajarkan kepada anggota-anggota baru sebagai
cara yang benar untuk memahami, memikirkan dan merasakan berkanaan dengan
masalah-masalah tersebut.
3)
Mondy dan Noe (1996): Budaya organisasi adalah sistem
dari shared values, keyakinan dan kebiasaan-kebiasaan dalam suatu
organisasi yang saling berinteraksi dengan struktur formalnya untuk menciptakan
norma-norma perilaku.
4)
Hodge, Anthony dan Gales
(1996): Budaya organisasi adalah konstruksi
dari dua tingkat karakteristik, yaitu karakteristik organisasi yang
kelihatan (observable) dan yang tidak kelihatan (unoservable).
Robbins (2007), memberikan tujuh
karakteristik budaya sebagai berikut:
1)
Inovasi dan
keberanian mengambil resiko yaitu sejauh mana karyawan diharapkan didorong
untuk bersikap inovtif dan berani mengambil resiko.
2)
Perhatian
terhadap detail yaitu sejauh mana karyawan diharapkan menjalankan presisi,
analisis, dan perhatian pada hal-hal detil.
3)
Berorientasi
pada hasil yaitu sejauh mana manajemen berfokus lebih pada hasil ketimbang
teknik atau proses yang digunakan untuk mencapai hasil tersebut.
4)
Berorientasi
kepada manusia yaitu sejauh mana keputusan-keputusan manajemen mempertimbangkan
efek dari hasil tersebut atas orang yang ada di dalam organisasi.
5)
Berorientasi
pada tim yaitu sejauh mana kegiatan-kegiatan kerja diorganisasi pada tim
ketimbang individu-individu.
6)
Agresivitas
yaitu sejauh mana orang bersikap agresif dan kompetitif ketimbang santai.
7)
Stabilitas
yaitu sejauh mana kegiatan-kegiatan organisasi menekankan dipertahankannya
status quo dalam perbandingannya dengan pertumbuhan.
Sedangkan Snhneider dalam (Pearse dan
Bear, 1998) mengklasifikasikan budaya organisasi ke dalam empat tipe dasar,
yaitu:
1)
Control Culture
Budaya impersonal nyata yang memberikan
perhatian pada kekonkretan pembuatan keputusan yang melekat secara analitis,
orientasi masalah dan preskriptif.
2)
Collaborative
Culture
Berdasarkan pada kenyataan individu
terhadap pengambilan keputusan yang dilakukan secara people-driven, organic
dan informal. Interaksi dan keterlibatan menjadi elemen pokok.
3)
Competence
Culture
Budaya personal yang dilandaskan pada
kompetensi diri, yang memberikan perhatian pada potensi, alternatif,
pilihan-pilihan kreatif dan konsep-konsep teoretis. Orang orang yang termasuk
dalam tipe budaya ini memiliki standar untuk meraih sukses yang lebih tinggi.
4)
Cultivation
Culture
Budaya yang berlandaskan pada
kemungkinan seorang individu mampu memperoleh inspirasi.
Fungsi Budaya
Organisasi
Budaya organisasi memiliki fungsi yang
sangat penting. Fungsi budaya organisasi adalah sebagai tapal batas tingkah
laku individu yang ada didalamnya.
Fungsi budaya biasanya sulit dibedakan dengan fungsi budaya kelompok atau
budaya organisasi, karena budaya adalah gejala sosial.
Fungsi Budaya Organisasi menurut
Siagian (1992 : 153) mencatat lima fungsi utama budaya organisasi, yakni:
1)
Sebagai penentu batas-batas tingkah
laku dalam arti memastikan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, apa yang
dilihat baik atau tidak baik, memastikan yang benar dan yang salah.
2)
Menumbuhkan perasaan jati diri dalam
suatu organisasi dan para anggotanya.
3)
Menumbuhkan komitmen kepada
kepentingan bersama diatas kepentingan pribadi atau kelompok sendiri.
4)
Sebagai tali pengikat untuk seluruh
anggota organisasi
5)
Sebagai alat pengendali perilaku
para anggota organisasi yang berkaitan.
Pedoman Tingkah
Laku
Antara manusia dan kebudayan terjalin
hubungan yang sangat erat, sebagaimana yang diungkapkan oleh Dick Hartoko bahwa
manusia menjadi manusia merupakan kebudayaan. Hampir semua tindakan manusia itu
merupakan kebudayaan. Hanya tindakan yang sifatnya naluriah saja yang bukan
merupakan kebudayaan, tetapi tindakan demikian prosentasenya sangat kecil.
Tindakan yang berupa kebudayaan tersebut dibiasakan dengan cara belajar.
Terdapat beberapa proses belajar kebudayaan yaitu proses internalisasi,
sosialisasi, dan enkulturasi.
Tingkah laku dapat dijelaskan melalui
pendekatan, salah satunya adalah pendekatan psikologi dimana tingkah laku dapat
dijelaskan dengan cara yang berbeda-beda, dalam psikologi sedikitnya ada lima
cara pendekatan, yaitu:
1)
Pendekatan
Neurobiologis
Tingkah laku manusai pada dasrnya
dikendalikan oleh aktivitas otak dan sistem syaraf. Pendekatan neurobiologis
berupaya mengaitkan perilaku yang terlihat dengan impuls listrik dan kimia yang
terjadi didalam tubuh serta menentukan proses neurobiologi yang mendasari
perilaku dan proses mental.
2)
Pendekatan
Perilaku
Pada dasarnya tingkah laku adalah
respon atau stimulus yang datang. Secara sederhana dapat digambarkan
dalam model S – R atau suatu kaitan Stimulus - Respon. Ini berarti tingkah laku
itu seperti reflek tanpa kerja mental sama sekali.
3)
Pendekatan
Kognitif
Pendekatan ini menekankan bahwa tingkah
laku adalah proses mental, dimana individu (organisme) aktif dalam menangkap,
menilai, membandingkan, dan menanggapi stimulus sebelum melakukan reaksi.
Individu menerima stimulus lalu melakukan proses mental sebelum memberikan
reaksi yang datang.
4)
Pendekatan
Psikoanalisa
Pendekatan psikoanalisa dikembangkan
oleh Sigmund Freud. Ia meyakini bahwa kehidupan individu sebagian besar
dikuasai oleh alam bawah sadar. Sehingga tingkah laku banyak didasari oleh
hal-hal yang tidak disadari, seperti keinginan, impuls, atau dorongan.
Keinginan atau dorongan yang ditekan akan tetap hidup dalam alam bawah sadar
dan sewaktu-waktu akan menuntut untuk dipuaskan.
5)
Pendekatan
Fenomenologi
Pendekatan ini lebih memperhatikan pada
penagalam subyektif individu karena itu tingkah laku sangat dipengaruhi oleh
pandangan individu terhadap diri dan dunianya, konsep tentang dirinya, harga
dirinya dan segala hal yang menyangkut kesadaran atau aktualisasi dirinya. Ini
berarti melihat tingkah laku seseorang selalu dikaitkan dengan fenomena tentang
dirinya.
Apresiasi
Budaya
Istilah apresiasi berasal dari bahasa
inggris “appreciation” yang berarti penghargaan, penilaian, pengertian.
Bentuk itu berasal dari kata kerja “it appreciate” yang berarti
menghargai, menilai, mengerti dalam bahasa indonesia menjadi mengapresiasi.
Apresiasi budaya adalah kesanggupan untuk menerima dan memberikan penghargaan,
penilaian, pengertian terhadap hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal
manusia.
Ada beberapa metode dalam mengapresiasi
budaya, antara lain:
1)
Metode Induktif
Apresiasi dilakukan dengan cara menarik
konsep/kebenaran/keindahan dari pranata yang sifatnya khusus sampai yang
bersifat umum.
2)
Metode Deduktif
Apresiasi dilakukan dengan cara menarik
konsep/kebenaran/keindahan dari pranata yang sifatnya umum sampai yang bersifat
khusus.
3)
Metode Empati
Apresiator mengamati seolah-olah larut
pada perasaan, terbawa oleh obyek, sehingga dalam komentar-komentarnya terdapat
ibarat, metafora yang melebih-lebihkan.
4)
Metode
Interaktif
Metode ini dilakukan untuk mencari
kesepakatan dengan melalui sarasehan budaya.
Hubungan Etika
Dan Budaya
Hubungan antara Etika dengan
Kebudayaan: Meta-ethical cultural relativism merupakan cara pandang
secara filosofis yang yang menyatkan bahwa tidak ada kebenaran moral yang
absolut, kebenaran harus selalu disesuaikan dengan budaya dimana kita
menjalankan kehidupan soSial kita karena setiap komunitas sosial mempunyai cara
pandang yang berbeda-beda terhadap kebenaran etika.
Etika erat kaitannya dengan moral. Etika
atau moral dapat digunakan okeh manusia sebagai wadah untuk mengevaluasi sifat
dan perangainya. Etika selalu berhubungan dengan budaya karena merupakan
tafsiran atau penilaian terhadap kebudayaan. Etika mempunyai nilai kebenaran
yang harus selalu disesuaikan dengan kebudayaan karena sifatnya tidak absolut
danl mempunyai standar moral yang berbeda-beda tergantung budaya yang berlaku
dimana kita tinggal dan kehidupan social apa yang kita jalani.
Baik atau buruknya suatu perbuatan itu
tergantung budaya yang berlaku. Prinsip moral sebaiknya disesuaikan dengan
norma-norma yang berlaku, sehingga suatu hal dikatakan baik apabila sesuai
dengan budaya yang berlaku di lingkungan sosial tersebut. Sebagai contoh orang
Eskimo beranaggapan bahwa tindakan infantisid (membunuh anak) adalah tindakan
yang biasa, sedangkan menurut budaya Amerika dan negara lainnya tindakan ini
merupakan suatu tindakan amoral.
Suatu premis yang disebut dengan “Dependency
Thesis” mengatakan “All moral principles derive their validity from cultural
acceptance”. Penyesuaian terhadap kebudayaan ini sebenarnya tidak
sepenuhnya harus dipertahankan dan dibutuhkan suatu pengembangan premis yang
lebih kokoh.
Etika perusahaan menyangkut hubungan:
1)
Perusahaan dan
karyawan sebagai satu kesatuan dengan lingkungannya (misalnya dengan perusahaan
lain atau masyarakat setempat).
2)
Etika kerja
terkait antara perusahaan dengan karyawan.
3)
Etika
perorangan mengatur hubungan antar karyawan.
Faktor utama yang dapat menciptakan
iklim etika dalam perusahaan:
1)
Terciptanya
budaya perusahaan secara baik.
2)
Terbangunnya
suatu kondisi organisasi berdasarkan saling percaya (trust-based-ornganization)
3)
Terbentuknya
manajemen hubungan antara pegawai (employee relationship management)
Iklim etika dalam perusahaan
dipengaruhi oleh adanya interaksi bebarapa faktor:
1)
Faktor
kepentingan diri sendiri
2)
Keuntungan
perusahaan
3)
Pelaksanaan
efisiensi
4)
Kepentingan
kelompok
Pengaruh Etika
terhadap Budaya
Etika seseorang dan etika bisnis adalah
satu kasatuan yang terintegrasi sehingga tidak dapat dipisahkan satu dengan
yang lainnya, keduanya saling melengkapi dalam mempengaruhi perilaku antar
individu maupun kelompok, yang kemudian menjadi perilaku organisasi yang akan
berpengaruh terhadap budaya perusahaan. Jika etika menjadi nilai dan keyakinan
yang terinternalisasi dalam budaya perusahaan, maka akan berpotensi menjadi
dasar kekuatan perusahaan dan akhirnya akan berpotensi menjadi stimulus dalam
peningkatan kinerja karyawan.
Terdapat pengaruh yang signifikan
antara etika seseorang dari tingkatan manajer terhadap tingkah laku etis dalam
pengambilan keputusan. Kemampuan seorang profesional untuk dapat mengerti dan
pekau terhadap adanya masalah etika dalam profesinya sangat dipengaruhi oleh
lingkungan, sosial budaya, dan masyarakat dimana dia berada. Budaya perusahaan
memberikan sumbangan yang sangat berartiu terhadap perilaku etis. Perusahaan
akan menjadi lebih baik jika mereka membudayakan etika dalam lingkungan
perusahaannya.
Budaya perusahaan pada dasarnya
mewakili norma-norma perilaku yang diikuti oleh para anggota organisasi,
termasuk mereka yang berada dalam hirarki organisasi. Bagi oraganisasi yang
masih didominasi oleh pendiri, maka budayanya akan menajadi wahana untuk
mengkomunikasikan harapan-harapan pendiri kepada para pekerja lainnya. Demikian
pula jika perusahaan dikelola oleh seorang manajer senior otokratis yang
menerapkan gaya kepemimpinan top down. Disini budaya juga akan berperan
untuk mengkomunikasikan harapan-harapan manajer senior itu.
Isu dan kekuatan suatu budaya
memengaruhi suasana etis sebuah organisasi dan perilaku etis para anggotanya.
Budaya sebuah oraganisasi yang punya kemungkinan paling besar untuk membentuk
standar dan etika tinggi adalah budaya yang tinggi toleransinya terhdapa risiko
tinggi, sedang, sampai rendah dalam hal keagresifan, dan fokus pada sarana
selain itu juga hasil. Manajemen dapat melakukan bebarapa hal dalam menciptakan
budaya yang lebih etis, yaitu:
1)
Model peran
yang visible
Karyawan akan melihat sikap dan
perilaku manjemen puncak (Top Manajemen) sebagai acuan/landasan standar untuk
menentukan perilaku dan tindakan-tindakan yang semestinya diambil.
2)
Komunikasi
harapan etis
Ambiguitas etika dapat diminimalisir
dengan menciptakan dan mengkomunikasikan kode etik organisasi.
3)
Pelatihan etis
Pelatihan etis digunakan memperkuat
standar, tuntutan organisasi, menjelaskan praktik yang diperbolehkan dan yang
tidak, dan menangani dilema etika yang mungkin muncul.
Kendala
Mewujudkan Kinerja Bisnis
Pencapaian tujuan etika bisnis di
Indonesia masih berhadapan dengan beberapa masalah dan kendala. Keraf (1993 :
81-83) menyebut beberapa kendala tersebut yaitu:
1)
Standar moral
para pelaku bisnis pada umumnya masih lemah.
Banyak di antara pelaku bisnis yang
lebih suka menempuh jalan pintas, bahkan menghalalkan segala cara untuk
memperoleh keuntungan dengan mengabaikan etika bisnis, seperti memalsukan
campuran, timbangan, ukuran, menjual barang yang kadaluwarsa, dan memanipulasi
laporan keuangan.
2)
Banyak
perusahaan yang mengalami konflik kepentingan.
Konflik kepentingan ini muncul karena
adanya ketidaksesuaian antara nilai pribadi yang dianutnya atau antara
peraturan yang berlaku dengan tujuan yang hendak dicapainya, atau konflik
antara nilai pribadi yang dianutnya dengan praktik bisnis yang dilakukan oleh
sebagian besar perusahaan lainnya, atau antara kepentingan perusahaan dengan
kepentingan masyarakat. Orang-orang yang kurang teguh standar moralnya bisa
jadi akan gagal karena mereka mengejar tujuan dengan mengabaikan peraturan.
3)
Situasi politik
dan ekonomi yang belum stabil.
Hal ini diperkeruh oleh banyaknya
sandiwara politik yang dimainkan oleh para elit politik, yang di satu sisi
membingungkan masyarakat luas dan di sisi lainnya memberi kesempatan bagi pihak
yang mencari dukungan elit politik guna keberhasilan usaha bisnisnya. Situasi
ekonomi yang buruk tidak jarang menimbulkan spekulasi untuk memanfaatkan
peluang guna memperoleh keuntungan tanpa menghiraukan akibatnya.
4)
Lemahnya
penegakan hukum.
Banyak orang yang sudah divonis
bersalah di pengadilan bisa bebas berkeliaran dan tetap memangku jabatannya di
pemerintahan. Kondisi ini mempersulit upaya untuk memotivasi pelaku bisnis
menegakkan norma-norma etika.
5)
Belum ada
organisasi profesi bisnis dan manajemen untuk menegakkan kode etik bisnis dan
manajemen.
Organisasi seperti KADIN beserta
asosiasi perusahaan di bawahnya belum secara khusus menangani penyusunan dan
penegakkan kode etik bisnis dan manajemen.
Kendala mewujudkan kinerja bisnis etis
1)
Mentalitas para
pelaku bisnis, terutama top management yang secara moral rendah,
sehingga berdampak pada seluruh kinerja bisnis. Perilaku perusahaan yang etis
biasanya banyak bergantung pada kinerja top management, karena kepatuhan
pada aturan itu berjenjang dari mulai atas ke tingkat bawah.
2)
Faktor budaya
masyarakat yang cenderung memandang pekerjaan bisnis sebagai profesi yang penuh
dengan tipu muslihat dan keserakahan serta bekerja mencari untung. Bisnis
merupakan pekerjaan yang kotor. Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa
masyarakat kita memiliki persepsi yang keliru tentang profesi bisnis.
3)
Faktor sistem
politik dan sistem kekuasaan yang diterapkan oleh penguasan sehingga
menciptakan sistem ekonomi yang jauh dari nilai-nilai moral. Hal ini dapat
terlihat dalam bentuk KKN.
Sumber:
Robbin dan Judge. 2007. Perilaku
Organisasi, buku 2. Jakarta: Salemba Empat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar